Membayar Perubahan

Posted : 2013-04-20 06:35 by Kristin Liu

Sebuah hukum yang berlaku kekal di semesta alam ini adalah hukum yang menyatakan bahwa ~ Semua bentuk yang ada di kehidupan ini mengalami perubahan ~. Kata bentuk di sini bukan hanya dimaksudkan untuk menjelaskan tentang benda yang memiliki bentuk dan rupa nyata yang bisa dinikmati indera, tapi dalam arti yang lebih luas lagi, semisal untuk pikiran. Meskipun pikiran tidak memiliki bentuk yang nyata seperti indera kita mengenali sebuah benda, namun tetap saja pikiran memiliki bentuk, yang bisa mengenali bentuk pikiran adalah pikiran itu sendiri.
Bentuk pikiran muncul dalam wujud ide, komentar dalam diri, kenangan dari waktu yang telah lalu, hayalan terhadap masa yang akan datang, emosi, perasaan, dan lain sebagainya. Pikiran mengenali bentuk pikiran dari lamanya bentuk pikiran itu muncul, bertahan dan hilang. Kuat lemahnya sebuah pikiran mempengaruhi perasaan juga memberikan bentuk pada pikiran. Dan kriteria lainnya yang menegaskan bahwa pikiran juga memiliki bentuk.
Dan dalam hal ini, bentuk pikiran juga adalah hal yang tidak kekal, dia berubah, timbul~bertahan~hilang.
Demikian juga dengan semua bentuk lainnya dalam kehidupan, apapun itu. Semuanya mengalami perubahan, dan tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk membuat sesuatu berhenti mengalami perubahan.
Ketika ini diberlakukan ke dalam kehidupan yang dijalani sebagai manusia, saya lebih menyukai jika menyebutnya sebagai perubahan yang terarah. Saya tidak menyangkal Hukum Perubahan yang kekal ini, tapi saya sedang mengalir bersamanya ke arah-arah yang bisa saya tentukan, inilah yang saya sebut sebagai perubahan terarah.
Para pembaca, dengan mengetahui tentang keberadaan Hukum Perubahan yang kekal ini, maka sudah sepantasnyalah kita hidup menyesuaikan diri dengan hukum ini. Mari kita menyiapkan diri untuk mengalami perubahan lebih tepatnya perubahan terarah.
Harga sebuah perubahan
Untuk mengalami sebuah perubahan terarah tidaklah gratis. Ada harga yang harus dibayarkan. Ada orang yang membayarnya dengan harga yang mahal adapula yang hanya membayarnya dengan harga murah. Saya memilih cara membayar di luar dari kedua hal ini. Bagi saya tidak penting jika saya hanya membayar murah atau harus membayar mahal untuk sebuah perubahan, yang terpenting bagi saya adalah saya membayarnya dengan MUDAH.
Ketika saya menyebutkan kata harga, murah dan mahal, sepertinya ini identik sekali dengan jumlah Rupiah yang harus dikeluarkan untuk membayar sebuah perubahan terarah. Pemikiran ini belumlah terlalu tepat. Setelah sebuah keputusan untuk mengalami sebuah perubahan terarah dibuat, maka hal selanjutnya yang harus diketahui adalah kesiapan untuk membayar harga atas perubahan terarah itu.
Apa saja harga yang harus dibayarkan untuk sebuah perubahan terarah?
1. Harga atas Waktu
Waktu adalah investasi yang orang-orang paling tidak berkenan untuk berikan dalam mengalami perubahan terarah. Banyak orang mengeluh kenapa hidupnya belum berubah, kenapa hidupnya masih begini-begini saja. Ini semua karena keinginan mereka yang begitu menggebu-gebu untuk segera mengalami perubahan.
Akhirnya karena ketidak-sabaran mereka dalam menjalankan prosesnya, mereka menganulir semua proses yang telah dilalui dan mengubah tujuan dan bahkan strategi yang berlawanan dengan tujuan semula. Mereka kembali menginvestasikan waktunya dari awal lagi. Padahal segala sesuatu membutuhkan waktu untuk berproses dan sebuah proses harus dinikmati. Kemampuan kita menikmati setiap momen yang kita lalui inilah yang membuat hidup kita menjadi indah.
Cobalah berhenti sejenak melihat ke belakang hidup kita. Lihat apa yang telah berubah dalam hidup kita. Saat kita sedang menjalani prosesnya, perubahan itu terasa begitu lambat berproses atau terasa tidak berproses sama sekali. Tapi setelah perubahan itu terjadi, kita merasa bahwa transformasi itu terjadi secara tiba-tiba. Seringkali kita tidak menyadari perubahan itu. Orang lainlah yang sering mengingatkannya kepada kita, bahwa kita telah mengalami perubahan.
“No matter how great the talent or efforts, some things just take time. You can’t produce a baby in one month by getting nine women pregnant.” ~ Warren Buffet
2. Harga atas Upaya
“Insanity is doing the same thing over and over but hoping the different result.” ~ Albert Einstein.
Inilah yang seringkali membuat gagalnya pencapaian sebuah perubahan terarah. Orang-orang melakukan upaya dan strategi yang sama berulang-ulang untuk sebuah tujuan yang berbeda. Hal ini menyebabkan hasil yang dicapai tentu saja masih itu-itu juga. Akhirnya orang-orang ini sampai pada sebuah kesimpulan bahwa tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya tidak cocok dengannya. Dan mereka mulai lagi menetapkan sebuiah tujuan lain dan tetap mencapainya dengan upaya dan strategi yang sama.
Selain menyiapkan kekayaan strategi dalam berupaya, adalah penting untuk menumbuhkan benih keuletan. Perubahan terarah bukanlah tentang bergerak menjauh dari kondisi saat ini, tapi ini tentang mengubah masa depan, lebih tepatnya membuat masa depan menjadi sebuah masa yang nyaman.
Masa depan akan sama dengan masa lalu jika kita tidak punya upaya untuk melakukan hal yang berbeda saat ini. Dengan upaya yang berbeda dengan apa yang pernah kita lakukan selama ini, kita bisa membuat masa depan berbeda dengan masa lalu.
Semua ini berawal dari upaya diri sendiri, orang lain hanya memiliki peran sebagai penunjuk arah dan sebagai pendukung saja. Namun tetap dari diri sendirilah sebuah perubahan terarah berawal. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa mengubah orang lain, jika orang tersebut tidak memutuskan untuk berupaya mengubah dirinya.
Dan karena ini tentang kenyamanan masa depan, maka berupayalah dengan sungguh-sungguh.
3. Harga atas Materi
Materi adalah salah satu elemen yang dibutuhkan untuk mengalami sebuah perubahan terarah. Materi seringkali dilibatkan dalam upaya penemuan informasi yang berkaitan dengan perubahan terarah. Informasi bisa didapatkan dengan pengadaan buku ataupun sumber-sumber informasi lainnya. Materi juga dibutuhkan saat kita membutuhkan panduan verbal berupa mengikuti seminar atau pelatihan yang bisa memberikan informasi dan juga pembelajaran keahlian atau teknis yang mendukung perubahan terarah.
Materi dengan mudah diukur dalam satuan mata uang ataupun ukuran lainnya yang bisa lebih konkrit dan jelas. Besarnya materi yang diinvestasikan untuk sebuah perubahan seringkali berbanding lurus dengan hasil yang didapatkan. Tentu saja memilih strategi yang tepat untuk berinvetasi materi juga menjadi elemen yang tak kalah pentingnya.
Angka keberhasilan dari investasi yang cukup besar ini dikarenakan adanya sebuah program “tidak mau rugi” dalam pikiran setiap orang. Nilai yang besar dari sebuah investasi materi sianggap sebagai pengorbanan (Pain), sehingga pengorbanan ini layak untuk mendapatkan kesenangan (Pleasure) dalam bentk perubahan. Untuk itu pikiran manusia lebih tepatnya pikiran bawah sadarnya akan membayar investasi tersebut dengan menunjukkan kerja sama yang baik untuk mewujudkan sebuah perubahan terarah.
Meskipun ukuran besar kecil atas materi ini sangat relatif untuk tiap orang. Artinya dengan jumlah yang sama ada orang yang memaknainya bahwa itu adalah jumlah yang besar untuk diinvestasikan, sementara bagi orang lain, itu adalah jumlah yang kecil. Disini yang berperan besar adalah makna nila dari materi yang telah diinvestasikan.
Seringkali saya mendapatkan klien yang menurut kami mereka tidak akan mampu atau sulit untuk bisa membayar degan materi perubahan terarah yang mereka inginkan, sehingga kebijaksanaan dari saya, kami memberinya keringanan. Di luar dari dugaan saya, ternyata mereka justru dengan yakin menolak keringanan dari saya, dan menyatakan dengan tegas, bahwa pengorbanan materi yang besar ini adalah harga yang pantas untuk mereka investasikan pada perubahan terarah mereka. Ini karena mereka punya penghargaan diri yang baik terhadap diri mereka sendiri dengan menolai belas kasihan dari orang lain. Mereka merasa meraka sangat layak dan pantas untuk membayar dengan harga yang tinggi perubahan terarah mereka.
Ini adalah sikap yang sangat saya kagumi. Dan saya yakin mereka akan bersungguh-sungguh mendapatkan perubahan terarah mereka seperti yang telah mereka tetapkan atau bahkan yang lebih baik lagi.
4. Harga atas Perasaan
Perasaan yang muncul saat menjalani proses perubahan terarah adalah karena sering kali pikiran-pikiran yang mengganggu muncul, mencoba untuk mengagalkan proses perubahan terarah yang sudah ditetapkan. Inilah sifat alamiah pikiran. Jika tidak dilatih dengan seksama dan kemawasan, maka secara alamiah pikiran akan didominasi oleh bentuk-bentuk pikiran yang merugikan.
Ini karena dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa kita sadari banyak sekali informasi-informasi yang bersifat negatif dan tidak membangun untuk pikiran kita beredar di sekeliling kita. Dan tanpa kita sadari informasi yang kita lihat, baca dan dengar masuk ke pikiran kita sebagai data. Yang sewaktu dibutuhkan data ini keluar secara otomatis dan memberikan pengaruh untuk setiap pengambilan keputusan kita ataupun sekedar memaknai sebuah kejadian.
Ini sama halnya ketika kita sudah terbiasa dengan lettak sebuah cermin dalam ruangan. Kita terbiasa bercermin di situ. Bahkan tanpa kita sadarai setiap kali melewati cermin kita akan menoleh ke arah bayangan kita sekedar memeriksa penampilan kita. Hingga suatu saat kita harus memindahkan cermin ke tempat lain. Apa yang terjadi?
Saat kita melewati bekas tempat cermin itu berada, kita masih juga tanpa sadar berhenti atau melirik sekejab ke arah itu, berpikir bahwa cermin itu masih ada di sana. Dan mulai muncul perasaan janggal atas ketiadaan cermin. Sekejap, muncul keinginan untuk mengembalikan cermin ke tempat asalnya.
Seuah perubahan yang terjadipun akan memberikan efek demikian. Akan ada bagian di dalam dirri kita yang merasa kehilangan atas apa yang pernah ada dulunya. Dan bagian ini seringkali mencoba membujuk ita untuk kembali seperti yang dulu. Di sinilah kita perlu menegaskan kepada diri kita berulang-ulang bahwa pikiran dan perasaan kehilangan ini akan berakhir.
Akan muncul perasaan terbiasa terhadap yang baru. Bertahan dan laluilah. Perubahan terarah akan terjadi.
Sebuah contoh
Saya tutup tulisan saya dengan sebuah kisah yang bisa kita petik hikmahnya dalam memahami apa yang telah saya tuliskan di atas. Ini kisah tentang dua orang penggali sumur.
Mereka memiki tujuan yang sama, yaitu mencari air di dalam tanah. Untuk itu mereka perlu menggali tanah. Untuk dataran itu, air baru bisa ditemukan di kelalaman 10 meter. Mereka berdua tahu itu. Lalu berdasarkan pengetahuan mereka tentang titik mata air dan juga setelah menggunakan insting mereka untuk menemukan titik air di dalam sana, merekapun mulai menentukan wilayah mana yang akan mereka gali. Masing-masing memilih satu tempat. Mulailah mereka menggali lubang masing-masing.
Saya ceritakan tentang penggali sumur yang pertama terlebih dahulu. Seperjalanan dia menggali lubangnya, mulai muncul pikiran-pikiran yang menggoyahkannya keyakinannya. Semakin dia menggali, semakin muncul pikiran yang membuatnya ragu. Dia ragu bahwa saat ini dia sedang menggali lubang yang salah. Dia telah salah memilih lubang, sebab setelah menggali sejauh ini air juga belum ditemukan. Padahal dia baru menggalinya sedalam 3 meter saja.
Pikiran-pikiran itu kerap kali muncul, sampai ketika dia menggali tanah sedalam lima meter, dia memutuskan untuk percaya pada pikiran-pikiran yang muncul. pikiran-pikiran itu telah berhasil membuatnya yakin bahwa dia telah memilih lubang yang salah. Dia berhenti menggali. Dia naik ke atas lagi, lalu memilih lubang yang baru. Sebuah lubang yang lebih diyakini mengandung mata air di dalamnya.
Perjalanannya menggali lubang diawali lagi dari langkah pertama. Dia pindah lubang lagi, dia gali sedalam lima meter lagi, dan dia juga memutuskan dia di lubang yang salah. Ini terjadi berulang-ulang. Padahal air baru ada di kedalaman sepuluh meter. Akhirnya dia hanya memiliki banyak lubang dalam hidupnya, tanpa sekalipun menemukan air. Jika saja tenaga yang digunakan untuk menggali lubang kedua itu dialihkan untuk menggali lubang pertama saja, barangkali dia sudah menemukan air.
Apakah pikiran-pikiran yang muncul itulah yang salah? Tidak. Ini adalah sifat alamiah dari pikiran. Ingat pikiran apapun itu akan muncul~bertahan~hilang. Kegagalan si penggali sumur pertama terjadi karena dia lalai untuk memunculkan pikiran-pikiran yang mengingatkannya tentang seberapa dalam dia seharusnya menggali.
Sekarang, mari kita lihat apa yang terjadi pada si penggali sumur yang kedua.
Ternyata si penggali sumur yang kedua juga mengalami hal yang sama dengan si penggali sumur yang pertama. Pikiran-pikiran yang muncul mencoba meyakinkannya bahwa dia telah memilih lubang yang sama. Semakin dia menggali pikiran tentang keraguan rasanya semakin kuat mendesaknya untuk percaya.
Bedanya adalah sejak awal si penggali sumur ini konsisten memegang teguh pengetahuan bahwa daratan ini membutuhkan kedalama 10 meter untuk bisa menemukan air di dalamnya. Dengan kemawasan dia mengingatkan dirinya tentang hal ini setelah pikiran keraguan muncul. Tidak perduli seberapa sering pikiran ragu muncul, sesering itu pula dia mengingatkan akan pentingnya mencapai kedalaman 10 meter.
Dalam prosesnya ia menggali tanah, iapun tidak hanya menggunakan satu alat bantu saja. Ada kalanya dia mengunakan sekop, kadang ia menggunakan cangkul, kasang pula ia menggunakan bor untuk menggali tanah. Alat yang dia pakai beragam. Ini menunjukkan ia paham betul tentang materi yang terkandung di dalam tanah, tektur tanah yang berbeda membutuhkan alat yang berbeda pula.
Akhirnya si penggali sumur yang kedua inipun menemukan air, setelah dia mencapai kedalaman 10 meter. Yang membuat dia berhasil adalah kemampuannya untuk memunculkan kemawasan pikiran mengamati pikiran-pikiran yang muncul untuk mengagalkannya, lalu dengan sabar ia mengabaikan dan memunculkan pikiran-pikiran positif yang bisa mendukungnya untuk menemukan air.

Pengunjung Rumah Harmoni, pertanyaan untuk Anda sekarang, bersediakah Anda membayar harga untuk perubahan terarah Anda? Dan jika diibaratkan sebagai penggali sumur, Anda memutuskan untuk menjadi penggali sumur yang mana?

Visitor : Website counter

Upcoming Events

Product